Panduan menggunakan Blog ini :D

Pembaca yang budiman, silahkan isi kolom komentar dan memulai diskusi pada setiap postingan. Semakin ramai semakin semangat saya dalam mengelola blog ini. Selamat menjelajahi seluruh isi blog. ^_^.

Jan 9, 2018

Hitam, Putih dan Abu abu


Mayoritas pilihan di dunia ini tidak sekedar hitam putih, tidak pasti benar dan pasti salah, tidak bisa disebut satu pilihan selalu baik dan pilihan lainnya selalu buruk. Alih alih demikian, pilihan - pilihan dalam hidup ini umumnya memiliki manfaat dan kerugian sekaligus. Sehingga, bisa jadi pada satu waktu pilihan A lebih baik daripada pilihan B dan di waktu lain pilihan B yang lebih baik. Begitu pula, bisa jadi pilihan A lebih baik pada seseorang, akan tetapi tidak bagi orang lain. Orang lain lebih tepat memilih pilihan B. 

Hal ini berlaku di banyak hal dan kesempatan, termasuk dalam mendidik dan membesarkan anak. Di sosial media sering sekali saya baca, perdebatan antara ASI eksklusif vs susu formula, Ibu rumah tangga vs ibu bekerja, mengajar anak calistung saat balita vs setelah balita, memasukkan anak ke PAUD vs tidak menyekolahkan anak sebelum 5 tahun, membiarkan anak bermain gadget sepuasnya vs tidak mengijinkan anak bermain gadget sama sekali, mencekoki anak hafalan Al Qur'an di usia balita vs menunggu anak dapat melafalkan huruf arab dengan baik baru mengajarkan hafalan, memiliki banyak anak vs membatasi jumlah anak, dan banyak lagi. Masing masing mengutarakan argumen nya dari sudut pandang pribadi, sehingga bisa jadi pendapat dia tepat untuk dirinya dan anaknya, tapi tidak untuk orang lain dan anak orang lain.

Kemudian, beberapa emak emak galau setelah membaca perang argumen tersebut, bingung memutuskan apa yang ingin diterapkan kepada anaknya. Padahal, sejatinya, orang tua lah yang lebih paham dan lebih tahu tentang apa yang terbaik bagi anaknya. Orang tua lah yang paham situasi dan kondisi secara lengkap dan menyeluruh. Orang tua lah yang memahami minat, bakat dan kecenderungan sang anak. Orang tua lah yang mengetahui apakah efek buruk yang dikhawatirkan orang lain atau yang terjadi pada anak orang lain berlaku pula kepada anaknya. Sehingga, pendapat orang lain seharusnya tidak dijadikan panutan yang serta merta langsung diikuti. Cukup dijadikan bahan pertimbangan. 

Setelah mengambil keputusan dengan mempertimbangkan banyak hal, tidak perlu lagi memusingkan komentar orang, jangan kembali galau hanya karena keputusan tersebut tidak sesuai dengan kemauan tetangga, teman atau bahkan orang tua dan mertua. Yakinkan pada diri sendiri bahwa "saya lah yang lebih paham mana yang terbaik buat anak saya". Meskipun, ini bukan berarti menutup diri dari saran dan masukan pihak lain, tetapi mengokohkan diri untuk tidak sekedar mengikuti apa kata orang.

Begitu pula, sebagai "orang lain", kita tidak semestinya mengomentari apa yang diterapkan oleh rekan, tetangga, kenalan, bahkan seseorang yang kita tidak kenal, kepada anak-anak nya. Kita tidak tau apa pertimbangan mereka, latar belakang, pola pikir, dan alasan mereka. Sekedar memberi saran atau masukan boleh saja, tapi tidak untuk menghakimi, mencela atau menyalahkan keputusan orang lain terhadap anak-anaknya

Semoga dengan demikian tidak ada lagi perang argumen dan emak emak galau di jagat dunia maya.


No comments: